Korban Selamat Titanic Lelang Barang Peninggalan
00:26
Satu-satunya korban selamat tersisa dari tragedi tenggelamnya Kapal Titanic terbelit masalah keuangan sehingga wanita bernama Millvina Dean (96) itu bermaksud melelang barang peninggalan tragedi tersebut untuk melunasi biaya rumah perawatan dirinya.
Dean baru berusia sembilan minggu ketika Titanic tenggelam di Atlantik Utara pada 1912. Di berharap mendapatkan 3.000 poundsterling dari penjualan barang peninggalan itu, termasuk pakaian yang diberikan kepadanya oleh warga New York setelah ia diselamatkan.
Juga dilelang adalah surat kompensasi yang dikirimkan Titanic Relief Fund kepada ibunya. Ibunya mendapatkan santunan 1 pounds 7 shilling dan 6 sen setiap pekan. Beberapa lukisan Titanic, termasuk saat Titanic meninggalkan Pelabuhan White Star di Southampton, juga ikut dilelang.
Dean pindah ke sebuah rumah perawatan pribadi di Ashurst, Hants, Inggris, dua tahun lalu. "Saya berada di sini dua tahun lalu setelah pinggulku patah. Saya kemudian kena infeksi dan telah berada di sini dua tahun. Saya tidak bisa tinggal di rumah lagi. Saya menjual ini semua karena saya harus membayar biaya perawatan," kata Dean kepada Southern Daily Echo, Kamis (16/10).
Keluarga Dean bermaksud menjadi imigran ke Kansas, AS, ketika Titanic tenggelam. Dean ditempatkan pada sebuah kantung plastik dan diselamatkan bersama ibu dan saudara lelakinya. Namun, ayahnya bernama Bertram Dean tewas bersama 1.500 korban lainnya.
Lelang akan berlangsung di Rumah Lelang Henry Aldridge and Son di Devizes, Wilts, Inggris, Sabtu (18/10). Dean adalah korban selamat tragedi Titanic terakhir setelah Barbara Dainton dari Cornwall meninggal dunia, tahun lalu, pada usia 96 tahun.
Terima Gratifikasi, Menhan Australia Mundur
00:25
BRISBANE, KOMPAS.com — Menteri Pertahanan Australia Joel Fitzgibbon kembali dihantam badai politik yang memaksanya mundur dari jabatannya di kabinet, Kamis (4/6). Sebelumnya, Fitzgibbon sempat selamat dari skandal perjalanan luar negeri gratis ke Beijing dan Shanghai, China, 27 Maret 2009.
Laporan media Australia menyebutkan, pengunduran Fitzgibbon dipicu oleh terbongkarnya hadiah berupa fasilitas menginap gratis semalam dari perusahaan pendanaan asuransi kesehatan yang dipimpin saudaranya, Mark, berkaitan dengan upaya lobi perusahaan itu untuk mendapatkan kontrak asuransi di Dephan. Perdana Menteri Kevin Rudd sendiri telah menerima pengunduran diri Fitzgibbon.
"Menteri (Joel Fitzgibbon) sudah menerima tanggung jawab atas kesalahan-kesalahan ini. Semua itu kesalahan yang terkait dengan masalah akuntabilitas," kata PM Rudd seperti dikutip AAP dan dilansir Antara.
Bagi Fitzgibbon, pengunduran dirinya merupakan pilihan terbaik bagi kepentingan pemerintah, tetapi ia merasa sebagai korban dari pengkhianatan dua atau tiga orang dekatnya di Dephan.
Dalam surat pengunduran dirinya, Fitzgibbon antara lain mengungkapkan pertemuan yang diadakan Mark selaku pimpinan perusahaan pendanaan asuransi NIB dengan sejumlah pejabat Dephan dan pihak perusahaan asuransi kesehatan Amerika Serikat, Humana, guna membahas peluang bisnis.
Menurut ABC, beberapa staf Menhan Fitzgibbon juga ikut dalam pertemuan tersebut. Skandal terakhir yang memaksanya mundur dari jabatannya ini merupakan badai politik terbesar kedua yang dialaminya kurang dari tiga bulan terakhir.
Pada 26 Maret lalu, Fitzgibbon juga sempat dilanda skandal perjalanan luar negeri gratis ke Beijing dan Shanghai, China, pada 2002 dan 2005. Namun, PM Rudd menolak desakan kubu oposisi agar dia memecat Fitzgibbon walaupun ia mengaku kecewa dengan sikap menterinya yang tidak menjelaskan perihal perjalanannya ke Beijing dan Shanghai atas biaya pengusaha wanita China, Helen Liu, sebelum skandal itu terungkap ke publik.
Perjalanan Fitzgibbon ke dua kota China itu dilakukan ketika kubu Partai Buruh Australia (ALP) masih merupakan oposisi di Parlemen Federal. Skandal politik perjalanan gratis Menhan Fitzgibbon ini pun menggelinding menjadi wacana publik Australia setelah temuan beberapa "orang dalam" kementerian pertahanan yang memata-matai hubungan sang menteri dengan Helen Liu bocor ke media.
View blog reactionsKorban Selamat Terakhir Titanic Meninggal
00:23
HAMPSHIRE, KOMPAS.com — Korban selamat terakhir tenggelamnya kapal Titanic meninggal dunia di usia 97 tahun, Minggu (31/5).
Millvina Dean yang sama sekali tidak mengingat kejadian tenggelamnya Titanic meninggal dunia di rumah perawatan di Hampshire, Inggris.
Dean berusia sembilan pekan ketika kapal mewah itu tenggelam setelah menabrak gunung es pada 15 April 1912 dalam perjalanan panjang dari Southampton, Inggris. Insiden itu menewaskan 1.517 penumpang di Atlantic Utara, sebagian besar karena kurangnya pelampung.
Saat kejadian, keluarga Dean dalam perjalanan ke Amerika untuk membuka lembaran hidup baru dengan membuka toko tembakau di Kansas. Mereka menempati kamar kelas tiga. Ibu Dean, Georgetta, dan kakaknya berusia dua tahun, Bert, juga selamat. Namun, ayahnya, Bertram, termasuk korban tewas. Keluarga itu kemudian kembali ke Southampton, di mana Dean menghabiskan sebagian besar hidupnya.
Meskipun tidak memiliki kenangan tentang musibah itu, Dean selalu mengatakan, kejadian itu membekas di dalam hidupnya. Sebab, dia seharusnya tumbuh di AS, bukannya kembali ke Inggris. "Jika kapal tidak tenggelam, saya sudah menjadi warga Amerika," katanya.
Pada 1985, lokasi tenggelamnya Titanic ditemukan dan pada usia 70-an, Dean diminta meninjau lokasi. "Saya kira kadang-kadang mereka menatapku seolah saya adalah Titanic. Sejujurnya, beberapa di antara mereka bertanya-tanya tentang itu," katanya saat menghadiri konvensi Titanic di Amerika.
Miss Indonesia's first plan is to learn Indonesian
00:22
JAKARTA: The newly crowned Miss Indonesia Kerenina Sunny Halim might have amazed people with her fluent English, but surprised just as many with her poor ability to speak Indonesian.
On the final night of the Miss Indonesia pageant last week, Kerenina needed a translator to help her understand the judges' questions. Kerenina admits this is a weakness but has promised to improve her Indonesian language skills.
"It's been hard for me *to speak Indonesian*, because I use English every day," says the half-American woman. "But I will learn. Indonesian is an easy language, as long as we're willing to learn."
Kerenina's brother, actor Steve Emmanuel (now Yusuf Iman), reveals that his sister was not exposed to Indonesian as a child because she didn't go to a formal school. "She was with homeschooling," Steve says. "She barely uses Indonesian at home, and doesn't go out often *so she can't practice Indonesian*."
The 23-year-old has also promised to learn more about the local culture in preparing for this year's Miss World competition in Johannesburg, South Africa. "Currently, I don't know much *about Indonesian culture*," says the girlfriend of actor Nino Fernandez. "But within six months, I'm going to learn about it all, because I represent Indonesia at the international level."
Kerenina, who holds six diplomas - in public relations; sales and marketing; primary school teaching; economics; performing arts; and music and art - won the competition over the two other finalists, Viviane (from Bali) and Melati Putri Kusuma Dewi (West Sulawesi). Kerenina impressed the judges with her fluent English, and was considered to meet the contest's criteria of MISS (Manners, Impressive, Smart and Social). - JP
View blog reactionsJemaah Shalat Isya Ditembaki, 10 Orang Tewas
00:20BANGKOK, KOMPAS.com — Sedikitnya 10 orang ditembak mati oleh sekelompok orang yang dicurigai sebagai militan di sebuah masjid di Thailand selatan, Senin (8/6) malam.
Lima orang bersenjata senapan masuk ke masjid saat shalat Isya di distrik Cho-ai-rong, provinsi Narathiwat, yang bergolak. Seorang pejabat polisi yang dikutip kantor berita AFP mengatakan, imam masjid setempat termasuk salah satu korban tewas.
Lebih dari 3.700 orang terbunuh dalam pergolakan selama lima tahun di provinsi-provinsi Thailand selatan yang mayoritas penduduknya Muslim. "Mereka mengeluarkan tembakan tanpa pandang bulu ke arah sekitar 50 jemaah yang berada di dalam masjid," kata seorang polisi yang tidak mau disebutkan namanya.
Dia mengatakan, sekitar lima orang bersenjata masuk ke masjid melalui pintu belakang meski seorang juru bicara militer mengatakan terdapat dua penyerang yang masuk ke masjid melalui dua pintu berbeda.
Belum jelas siapa yang melakukan serangan itu. Serangan-serangan serupa di daerah yang berbatasan dengan Malaysia diduga dilakukan oleh pemberontak Muslim. Namun mereka cenderung menyerang orang-orang yang dianggap bersekongkol dengan pemerintah pusat atau berusaha memaksa keluar warga Budha dari daerah itu dan mendirikan negara Islam.
Pada tahun 1902, Thailand menjadikan tiga provinsi bagian selatan, Narathiwat, Yala, dan Pattani, sebagai bagian wilayah negara itu. Namun, mayoritas penduduk tiga provinsi itu adalah Muslim dan menggunakan bahasa Melayu, berbeda dengan mayoritas penduduk Thailand yang beragama Buddha dan berbahasa Thailand.
ONO
Sumber : AP,BBC
Foto Antusiasme Masyarakat Dunia Pada Saat President AS Mengemukakan Pidatonya Di Mesir
23:53
Obama Kutip Qur'an Fans di Mogadishu Somalia

Suasana di Pencukur Rambut Kota Yerusalem

Seorang Rabi Yahudi di Israel Saksikan Pula Pidato

Kaum Militan Palestina di Kota Gaza Saksikan Pidato

Pidato Presiden AS Barack Obama di Universitas Cairo 4 juni 2009
23:43PUBLIC AFFAIRS SECTION 5 Juni 2009
PIDATO PRESIDEN BARACK OBAMA: PERMULAAN YANG BARU
Kairo, Mesir
4 Juni 2009
Terima kasih. Selamat siang. Saya merasa terhormat berada di kota Kairo yang tak lekang oleh waktu, dan dijamu oleh dua institusi yang luar biasa. Selama lebih seribu tahun, Al Azhar telah menjadi ujung tombak pembelajaran Islam, dan selama lebih seabad, Universitas Kairo telah menjadi sumber kemajuan Mesir. Bersama, anda mewakili keselarasan antara tradisi dan kemajuan. Saya berterima kasih atas keramahan anda, dan keramahan rakyat Mesir. Saya juga bangga membawa niat baik rakyat Amerika, dan menyampaikan salam perdamaian dari warga muslim di negara saya: "assalamu'alaikum".Kita bertemu pada saat ada ketegangan besar antara Amerika Serikat dan warga Muslim seluruh dunia – ketegangan yang berakar pada gerak sejarah yang melampaui setiap perdebatan kebijakan yang kini berlangsung. Hubungan antara Islam dan Barat selama berada-abad mencakup koeksistensi dan kerja sama, tapi juga konflik dan peperangan bernuansa agama. Akhir-akhir ini, ketegangan muncul akibat kolonialisme yang menyangkal hak dan peluang bagi banyak warga Muslim, serta Perang Dingin yang membuat banyak negara dengan mayoritas penduduk Muslim diperlakukan sebagai boneka dengan mengabaikan aspirasi mereka. Lebih jauh lagi, perubahan besar yang diusung oleh modernitas dan globalisasi membuat kalangan Muslim menilai Barat bersikap memusuhi Islam.
Kelompok ekstrimis garis keras telah mengeksploitasi hubungan yang tegang itu, jumlah mereka kecil namun memiliki potensi di kalangan Muslim. Serangan pada 11 September 2001 dan upaya berkelanjutan dari kalangan ekstrimis ini untuk menyerang warga sipil telah membuat sebagian kalangan di negara saya menilai Islam bukan cuma memusuhi Amerika dan negara Barat, melainkan juga hak asasi manusia. Semua ini semakin memupuk rasa takut dan saling tidak percaya.
Selama hubungan Barat dan Islam ditentukan oleh perbedaan-perbedaan, kita akan memperkuat mereka yang menyebarkan kebencian ketimbang perdamaian, serta memperkuat mereka yang mempromosikan konflik ketimbang kerja sama yang dapat membantu rakyat mencapai keadilan dan kemakmuran. Lingkaran kecurigaan dan permusuhan ini harus kita akhiri.
Saya datang ke Kairo untuk mengupayakan awal baru antara Amerika Serikat dan Muslim diseluruh dunia, berdasarkan kepentingan bersama dan rasa saling menghormati – dan berlandaskan pada kenyataan bahwa Amerika dan Islam tidaklah eksklusif satu sama lain, dan tidak perlu bersaing. Kedua pihak bertemu dan berbagi prinsip yang sama – yaitu prinsip-prinsip keadilan dan kemajuan; toleransi dan martabat semua umat manusia.
Saya menyadari perubahan tidak dapat terjadi dalam semalam. Saya tahu banyak harapan terhadap pidato ini, tetapi satu pidato tidak akan mampu menghapus rasa curiga yang terpupuk selama bertahun-tahun, dan dalam waktu singkat siang ini saya juga tidak akan mampu menjawab semua pertanyaan rumit yang membawa kita ke titik ini. Tapi saya percaya bahwa agar bisa melangkah maju, kita harus secara terbuka mengatakan kepada satu sama lain hal-hal yang ada dalam hati kita, dan yang seringkali hanya diungkapkan di belakang pintu tertutup. Harus ada upaya terus menerus untuk mendengarkan satu sama lain; saling belajar satu sama lain; saling menghormati, dan mencari persamaan. Sebagaimana kitab suci Al Qur'an mengatakan, "Ingatlah kepada Allah dan bicaralah selalu tentang kebenaran." Ini yang akan saya lakukan hari ini – berbicara tentang kebenaran sesuai kemampuan saya, dengan rendah hati oleh tugas di depan kita, dan dengan keyakinan bahwa kepentingan bersama yang kita miliki sebagai umat manusia jauh lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan yang memisahkan kita.
Sebagian dari keyakinan ini berakar dari pengalaman saya pribadi. Saya penganut Kristiani, tapi ayah saya berasal dari Kenya yang turun temurun penganut Muslim. Saat kecil, saya tinggal di Indonesia beberapa tahun dan mendengar lantunan adzan subuh dan maghrib. Ketika muda, saya bekerja di komunitas-komunitas kota Chicago yang banyak anggotanya menemukan martabat dan kedamaian dalam keimanan Islam.
Sebagai pelajar sejarah, saya juga mengetahui peradaban berhutang besar terhadap Islam. Adalah Islam – di tempat-tempat seperti Universitas Al-Azhar – yang mengusung lentera ilmu selama berabad-abad, dan membuka jalan bagi era Kebangkitan Kembali dan era Pencerahan di Eropa. Adalah inovasi dalam masyarakat Muslim yang mengembangkan urutan aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; keahlian dalam menggunakan pena dan percetakan; dan pemahaman mengenai penularan penyakit serta pengobatannya. Budaya Islam telah memberikan kita gerbang-gerbang yang megah dan puncak-puncak menara yang menjunjung tinggi; puisi-puisi yang tak lekang oleh waktu dan musik yang dihargai; kaligrafi yang anggun dan tempat-tempat untuk melakukan kontemplasi secara damai. Dan sepanjang sejarah, Islam telah menunjukkan melalui kata-kata dan perbuatan bahwa toleransi beragama dan persamaan ras adalah hal-hal yang mungkin.
Saya juga tahu bahwa Islam selalu menjadi bagian dari riwayat Amerika. Negara pertama yang mengakui negara saya adalah Maroko. Saat menandatangani Perjanjian Tripoli pada tahun 1796, presiden kedua kami John Adams menulis, "Amerika Serikat tidaklah memiliki karakter bermusuhan dengan hukum, agama, maupun ketentraman umat Muslim." Dan sejak berdirinya negara kami, umat Muslim Amerika telah memperkaya Amerika Serikat. Mereka telah berjuang dalam sejumlah peperangan, bekerja dalam pemerintahan, memperjuangkan hak-hak sipil, mengajar di perguruan-perguruan tinggi kami, unggul dalam arena-arena olah raga kami, memenangkan Hadiah Nobel, membangun gedung-gedung kami yang tertinggi, dan menyalakan obor Olimpiade. Dan ketika warga Muslim-Amerika pertama terpilih sebagai anggota Kongres belum lama ini, ia mengambil sumpah untuk membela Konstitusi kami dengan menggunakan Al Quran yang disimpan oleh salah satu Bapak Pendiri kami – Thomas Jefferson – di perpustakaan pribadinya.
Jadi saya mengenal Islam di tiga benua sebelum datang ke kawasan tempat agama ini pertama kali diturunkan. Pengalaman tersebut memandu keyakinan saya bahwa kemitraan antara Amerika dan Islam harus didasarkan pada apakah Islam itu, bukan pada apakah yang bukan Islam. Dan saya menganggap ini adalah bagian dari tanggung jawab saya sebagai Presiden Amerika Serikat untuk memerangi stereotip negatif tentang Islam di mana pun munculnya.
Tapi prinsip yang sama harus diterapkan pada persepsi tentang Amerika. Seperti halnya umat Muslim tidak sesuai dengan stereotip yang mentah, Amerika juga bukan stereotip mentah tentang sebuah kekaisaran yang memiliki kepentingan sendiri. Amerika Serikat telah menjadi salah satu sumber kemajuan terbesar yang dikenali dunia. Kami lahir akibat revolusi melawan sebuah kekaisaran. Kami berdiri berdasarkan ide bahwa semua orang diciptakan sama, dan kami telah menumpahkan darah dan berjuang selama berabad-abad untuk memberikan arti kepada kata-kata tersebut – di dalam batas negara kami, dan di sekeliling dunia. Kami terbentuk oleh setiap budaya, yang datang dari setiap sudut bumi, dan berdedikasi pada sebuah konsep sederhana: E pluribus unum: "Dari banyak menjadi satu".
Banyak dikatakan menyangkut fakta bahwa seorang Amerika keturunan Afrika dengan nama Barack Hussein Obama dapat terpilih sebagai presiden. Tapi kisah pribadi saya bukanlah sesuatu yang unik. Mimpi akan kesempatan bagi semua belumlah terwujud bagi setiap orang di Amerika, tapi janji itu diberikan bagi semua yang datang ke pantai kami – termasuk hampir tujuh juta warga Muslim Amerika di negara kami saat ini yang memiliki pendapatan dan pendidikan lebih tinggi dari rata-rata.
Kaum Militan Palestina di Kota Gaza Saksikan Pidato Obama (http://news.bbc.co.uk)
Kaum Militan Palestina di Kota Gaza Saksikan Pidato Obama (http://news.bbc.co.uk)
Lebih jauh lagi, kebebasan di Amerika tidaklah terpisahkan dari kebebasan menjalankan agama. Itu sebabnya ada masjid di setiap negara bagian di negeri kami, dan ada lebih dari 1200 masjid di dalam batas negara kami. Itu sebabnya pemerintah Amerika telah maju ke pengadilan untuk membela hak wanita dan anak perempuan mengenakan hijab, dan untuk menghukum mereka yang mengingkarinya.
Jadi janganlah ada keraguan: Islam adalah bagian dari Amerika. Dan saya percaya bahwa Amerika memegang kebenaran dalam dirinya bahwa terlepas dari ras, agama, dan posisi dalam hidup, kita semua memiliki aspirasi yang sama – untuk hidup dalam damai dan keamanan; untuk memperoleh pendidikan dan untuk bekerja dengan martabat; untuk mengasihi keluarga kita, masyarakat kita, dan Tuhan kita. Ini adalah hal-hal yang sama-sama kita yakini. Ini adalah harapan dari semua kemanusiaan.
Tentu saja, mengenali persamaan kemanusiaan merupakan awal dari tugas kita. Justru ini adalah awal. Kata-kata saja tidak dapat memenuhi kebutuhan rakyat. Kebutuhan baru terpenuhi jika kita bertindak berani di tahun-tahun mendatang; Dan kita harus bertindak dengan pemahaman bahwa tantangan-tantangan yang kita hadapi adalah tantangan bersama, dan kegagalan kita mengatasinya akan merugikan kita semua.
Karena kita telah belajar dari pengalaman baru-baru ini bahwa ketika sistem keuangan melemah di satu negara, kemakmuran di mana pun ikut dirugikan. Ketika jenis flu baru menulari satu orang, semua terkena risiko. Ketika satu negara membangun senjata nuklir, risiko serangan nuklir bagi semua negara ikut naik. Ketika kelompok ekstrim keras beroperasi di satu rangkaian pegunungan, rakyat di seberang samudera pun ikut menghadapi bahaya. Dan ketika mereka yang tak bersalah di Bosnia dan Darfur dibantai, itu menjadi noda dalam nurani kita bersama. Itulah artinya berbagi dunia di abad ke-21. Inilah tanggung jawab kita kepada satu sama lain sebagai umat manusia.
Dan ini adalah tanggung jawab yang sulit diemban. Karena sejarah manusia telah merekam berbagai bangsa dan suku yang mencoba menaklukkan satu sama lain demi kepentingan sendiri. Tapi di era baru ini, sikap seperti itu justru akan mengalahkan diri sendiri. Karena saling ketergantungan kita, setiap tatanan dunia yang mengangkat satu bangsa atau sekelompok orang lebih tinggi dari yang lain pada akhirnya akan gagal. Jadi apa pun pikiran kita mengenai masa lalu, kita tidak boleh terperangkap olehnya. Masalah-masalah kita harus ditangani dengan kemitraan; kemajuan harus dibagi bersama.
Itu tidak berarti kita tidak mengindahkan sumber-sumber ketegangan. Justru yang disarankan adalah sebaliknya: kita harus menghadapi ketegangan-ketegangan ini secara langsung. Dan dalam semangat ini, saya akan berbicara sejelas dan segamblang mungkin mengenai isu-isu spesifik yang saya percaya akhirnya harus kita hadapi bersama.
Isu pertama yang harus kita hadapi adalah ekstrimisme garis keras dalam semua wujud.
Di Ankara, saya telah menjelaskan bahwa Amerika tidak sedang – dan tidak akan pernah – berperang dengan Islam. Kami akan, meski demikian, tak lelah-lelahnya melawan kelompok ekstrim keras yang mengancam serius keamanan kami. Karena kami menolak apa yang juga ditolak oleh semua orang beragama: yaitu pembunuhan laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tidak bersalah. Dan adalah tugas saya yang pertama sebagai Presiden untuk melindungi rakyat Amerika.
Situasi di Afghanistan mendemonstrasikan sasaran-sasaran Amerika dan kebutuhan kita untuk bekerja sama. Lebih tujuh tahun lalu, Amerika Serikat mengejar Al Qaida dan Taliban dengan dukungan internasional yang luas. Kami tidak melakukannya karena ada pilihan, kami melakukannya karena perlu. Saya sadar bahwa sejumlah orang mempertanyakan atau membenarkan peristiwa serangan 11 September. Tapi mari kita perjelas: Al Qaida membunuh hampir 3000 orang pada hari itu. Para korban adalah kaum pria, wanita, dan anak-anak yang tidak bersalah dari Amerika dan banyak negara lain yang tidak berbuat apa-apa untuk melukai orang lain. Tapi Al Qaida memilih untuk dengan kejam membunuh mereka, mengklaim pujian atas serangan tersebut, dan bahkan sekarang menyatakan tekad mereka untuk membunuh lagi dalam skala sangat besar. Mereka memiliki kaki tangan di banyak negara dan sedang mencoba untuk memperluas jangkauan mereka. Ini bukan opini yang dapat diperdebatkan; ini adalah fakta yang harus dihadapi.
Janganlah salah paham: kami tidak menginginkan tentara kami di Afghanistan. Kami tidak berencana mendirikan basis militer di sana. Sangat menyakitkan bagi Amerika untuk kehilangan nyawa banyak warga pria dan wanita kami. Adalah mahal dan sulit secara politik untuk melanjutkan konflik ini. Kami dengan senang hati akan memulangkan setiap tentara kami jika kami bisa yakin bahwa tidak ada kaum ekstrimis keras di Afghanistan dan Pakistan yang bertekad membunuh sebanyak mungkin orang Amerika sebisa mereka. Tetapi hal itu tidak bukanlah kenyataan yang ada sekarang. Itulah sebabnya kami bermitra dengan koalisi 46 negara. Dan meksi biayanya besar, niat Amerika tidak akan melemah. Tak satu pun dari kita yang seharusnya mentoleransi kaum ekstrimis seperti ini. Mereka telah membunuh di banyak negara. Mereka telah membunuh orang dari beragam agama – lebih dari yang lain, mereka telah membunuh umat Muslim. Tindakan-tindakan mereka sangat bertentangan dengan hak umat manusia, kemajuan bangsa-bangsa, dan dengan Islam. Kitab suci Al Quran mengajarkan bahwa siapa yang membunuh orang tak bersalah, maka ia seperti telah membunuh semua umat manusia; dan siapa yang menyelamatkan satu orang; maka ia telah menyelamatkan semua umat manusia. Iman indah yang diyakini oleh lebih semiliar orang sungguh lebih besar daripada kebencian sempit sekelompok orang. Islam bukanlah bagian dari masalah dalam memerangi ekstrimisme keras – Islam haruslah menjadi bagian penting dari penggalakan perdamaian.
Kami juga tahu bahwa kekuatan militer saja tidak akan memecahkan masalah di Afghanistan dan Pakistan. Itu sebabnya kami berencana untuk menanam investasi sebesar 1,5 miliar dolar setiap tahun selama lima tahun ke depan untuk bermitra dengan warga Pakistan membangun sekolah, rumah sakit, jalan-jalan, dan usaha, dan ratusan juta untuk membantu mereka yang telah kehilangan tempat tinggal. Dan itu sebabnya kami menyediakan lebih dari 2.8 miliar dolar untuk membantu rakyat Afghanistan membangun ekonomi mereka dan menyediakan jasa-jasa yang dibutuhkan masyarakat.
Kini saya akan berbicara tentang masalah Irak. Tidak seperti Afghanistan, Irak adalah perang karena pilihan yang telah menimbulkan perbedaan-perbedaan kuat di negara saya dan di dunia. Meski saya percaya bahwa rakyat Irak pada akhirnya lebih baik tanpa tirani Saddam Hussein, saya juga percaya bahwa peristiwa-peristiwa di Irak telah mengingatkan Amerika tentang perlunya menggunakan diplomasi dan membangun konsensus untuk mengatasi masalah-masalah kita kapan pun memungkinkan. Kita bahkan dapat mengingat kata-kata salah satu presiden terbesar kami, Thomas Jefferson, yang mengatakan: "Saya berharap kebijakan kita akan bertambah sejalan dengan kekuatan kita, dan mengajarkan kita bahwa semakin sedikit kita menggunakan kekuatan, justru semakin besar kekuatan itu."
Hari ini Amerika memiliki dua tanggung jawab: yaitu untuk membantu Irak membangun masa depan yang lebih baik, dan untuk menyerahkan Irak ke tangan rakyat Irak. Saya telah menjelaskan kepada warga Irak bahwa kami tidak berencana mendirikan basis di sana, dan tidak mengklaim baik teritori maupun sumber daya mereka. Kedaulatan Irak ada di tangan mereka sendiri. Itu sebabnya saya memerintahkan pencabutan brigade-brigade tempur kami sampai bulan Agustus mendatang. Itu sebabnya kami akan menghormati kesepakatan kami dengan pemerintah Irak yang terpilih secara demokratis untuk menarik pasukan tempur dari kota-kota Irak pada Juli mendatang, dan untuk memulangkan semua tentara kami dari Irak pada tahun 2012. Kami akan membantu Irak melatih Tentara Keamanan dan membangun ekonominya. Tapi kami akan mendukung Irak yang aman dan bersatu sebagai mitra, dan tidak pernah sebagai pelindung.
Dan akhirnya, seperti halnya Amerika tidak pernah bisa mentoleransi kekerasan oleh kaum ekstrimis, kami tidak pernah boleh mengompromikan prinsip-prinsip kami. Serangan 11 September adalah trauma besar bagi negara kami. Rasa takut dan marah yang muncul karenanya bisa dipahami, tapi dalam sejumlah kasus, itu telah membuat kami bertindak berlawanan dengan pemikiran-pemikiran kami. Kami sedang mengambil langkah-langkah konkret untuk mengubah arah. Saya telah sepenuhnya melarang praktik penyiksaan oleh Amerika Serikat, dan saya telah memerintahkan penutupan penjara di Teluk Guantanamo awal tahun depan.
Jadi Amerika akan membela diri, dengan menghormati kedaulatan bangsa-bangsa dan aturan hukum. Dan kami akan melakukannya dalam kemitraan dengan masyarakat-masyarakat Muslim yang juga terancam. Semakin cepat kaum ekstrimis diisolasi dan diusir dari dalam masyarakat-masyarakat Muslim, semakin cepat kita semua akan menjadi selamat.
Sumber ketegangan besar yang kedua yang perlu kita diskusikan adalah situasi antara warga Israel, Palestina, dan dunia Arab.
Ikatan yang kuat antara Amerika dan Israel telah banyak diketahui. Ikatan ini tidak dapat dipatahkan. Ini lahir berdasarkan ikatan budaya dan sejarah, serta pengakuan bahwa aspirasi atas sebuah tanah air Yahudi berakar dari sebuah sejarah tragis yang tidak bisa diingkari.
Di seantero dunia, kaum Yahudi telah ditindas selama berabad-abad, dan anti-Semitisme di Eropa memuncak dalam peristiwa Holocaust yang tidak pernah ada sebelumnya. Besok saya akan mengunjungi Buchenwald yang menjadi bagian dari jaringan kamp-kamp tempat kaum Yahudi diperbudak, disiksa, ditembak, dan digas hingga tewas oleh Third Reich. Enam juta orang Yahudi terbunuh – lebih banyak dari seluruh populasi Yahudi di Israel hari ini. Mengingkari fakta tersebut adalah tidak berdasar, bodoh, dan penuh kebencian. Mengancam Israel dengan penghancuran – atau mengulangi stereotip keji tentang umat Yahudi – sungguh sangat salah dan hanya akan membangkitkan kembali ingatan yang terperih di benak umat Yahudi sembari mencegah perdamaian yang patut dimiliki rakyat di kawasan ini.
Di sisi lain, tidak bisa diingkari bahwa rakyat Palestina – baik yang Muslim maupun yang Kristen – telah menderita dalam perjuangan memperoleh tanah air. Lebih dari enam puluh tahun, mereka telah merasakan sakitnya tidak memiliki tempat tinggal. Banyak yang menunggu di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat, Gaza, dan tanah-tanah tetangga untuk sebuah kehidupan yang damai dan aman yang belum pernah mereka jalani. Mereka menerima hinaan setiap hari – besar dan kecil – yang hadir bersama pendudukan. Jadi janganlah ada keraguan: situasi yang dihadapi rakyat Palestina tidaklah dapat ditoleransi. Amerika tidak akan bersikap tidak acuh terhadap aspirasi sah Palestina atas martabat, kesempatan, dan sebuah negara milik mereka sendiri.
Selama beberapa dekade, yang ada hanyalah jalan buntu: Dua rakyat dengan aspirasi yang sah, masing-masing memiliki sejarah menyakitkan yang membuat kompromi sulit dilakukan. Adalah mudah untuk menuding – rakyat Palestina menuding hilangnya tempat tinggal akibat berdirinya negara Israel, dan rakyat Israel menuding permusuhan yang terus menerus dan serangan dari dalam batas negaranya sendiri dan dari luar sepanjang sejarah negara tersebut. Tapi jika kita melihat konflik ini hanya dari satu sisi mana pun, maka kita akan dibutakan dari kebenaran: satu-satunya resolusi adalah aspirasi kedua pihak diwujudkan melalui dua negara, di mana rakyat Israel dan Palestina masing-masing hidup dalam damai dan keamanan. (tepuk tangan)
Ini adalah kepentingan Israel, kepentingan Palestina, dan kepentingan Amerika. Itu sebabnya saya berniat untuk secara pribadi mengejar hasil ini, dengan segala kesabaran yang dituntut oleh tugas ini. (tepuk tangan) Kewajiban-kewajiban yang telah disepakati pihak-pihak menurut Peta Jalan telah jelas. Supaya perdamaian terwujud, waktunya bagi mereka – dan bagi kita semua – untuk melakukan tanggung jawab kita.
Warga Palestina harus meninggalkan kekerasan. Perlawanan lewat kekerasan dan pembunuhan adalah salah dan tidak akan berhasil. Selama berabad-abad, rakyat kulit hitam di Amerika menderita hentakan pecut sebagai budak dan penghinaan akibat pemisahan berdasarkan warna kulit. Tetapi bukan kekerasan yang memenangkan hak-hak persamaan sepenuhnya. Sebuah tuntutan damai namun penuh tekad bagi realisasi kondisi ideal yang merupakan inti dari pendirian Amerika. Kisah sama ini juga diceritakan oleh rakyat mulai dari Afrika Selatan sampai Asia Selatan; dari Eropa Timur sampai Indonesia. Sebuah kisah yang mengandung kebenaran yang sederhana: bahwa kekerasan merupakan sebuah jalan buntu. Bukanlah sebuah tanda keberanian atau kekuasaan kalau menembak roket ke anak-anak yang sedang tidur, atau meledakkan perempuan tua di dalam bis. Itu bukanlah cara untuk mengklaim moralitas; namun itu merupakan cara untuk menghilangkannya.
Kini waktunya untuk warga Palestina memusatkan perhatian kepada apa yang bisa mereka bangun. Penguasa Palestina harus mengembangkan kemampuan untuk memerintah, dengan institusi yang melayani kebutuhan rakyatnya. Hamas memiliki dukungan di sebagian kalangan rakyat Palestina, tetapi mereka juga punya tanggung jawab. Guna memainkan peran yang memenuhi aspirasi rakyat Palestina, dan untuk mempersatukan rakyat Palestina, Hamas harus mengakhiri kekerasan, menghormati persetujuan di masa lalu dan mengakui hak eksistensi Israel.
Secara bersamaan, rakyat Israel harus mengakui bahwa sebagaimana hak Israel untuk eksis tidak bisa dibantah, demikian pula halnya dengan hak Palestina. Amerika Serikat tidak menerima keabsahan dari mereka yang berniat melenyapkan Israel ke dalam laut, tetapi kami juga tidak menerima keabsahan dari penerusan pembangunan pemukiman (tepuk tangan) Yahudi. Pekerjaan konstruksi ini melanggar persetujuan sebelumnya dan melemahkan usaha mencapai perdamaian. Sudah tiba waktunya pembangunan pemukiman ini dihentikan. (tepuk tangan)
Israel harus memenuhi kewajibannya untuk memastikan rakyat Palestina bisa hidup dan bekerja serta membangun masyarakat mereka. Selain menghancurkan banyak keluarga Palestina, terus berlangsungnya krisis kemanusiaan di Gaza juga tidak memperkuat keamanan Israel; begitu pula halnya dengan terus berlangsungnya kelangkaan peluang di Tepi Barat. Kemajuan dalam kehidupan sehari-hari rakyat Palestina harus menjadi bagian dari peta jalan menuju perdamaian, dan Israel harus mengambil langkah-langkah konkrit untuk memberdayakan kemajuan semacam itu.
Akhirnya, Negara-Negara Arab harus menyadari bahwa Inisiatif Perdamaian Arab merupakan awal yang penting, tetapi bukan akhir dari tanggung jawab mereka. Konflik Arab – Israel tidak bisa lagi dipakai untuk mengalihkan perhatian rakyat negara-negara Arab dari masalah-masalah lainnya. Sebaliknya, konflik itu harus menjadi penggerak untuk membantu rakyat Palestina mengembangkan institusi yang akan melanggengkan negara mereka; mengakui hak Israel; serta memilih kemajuan ketimbang fokus pada masa lalu yang begitu melemahkan.
Amerika akan menyesuaikan kebijakannya dengan mereka yang memperjuangkan perdamaian dan mengatakan secara terbuka apa yang kami katakan secara pribadi kepada warga Israel, Palestina, dan Negara-Negara Arab. (tepuk tangan) Kita tidak bisa memaksakan perdamaian. Tetapi secara pribadi, banyak orang Muslim menyadari bahwa Israel tidak akan lenyap; juga banyak orang Israel menyadari perlunya kehadiran sebuah negara Palestina. Waktunya sudah tiba bagi kita untuk bertindak berdasarkan apa yang oleh setiap orang diketahui merupakan hal yang benar.
Terlalu banyak air mata sudah diteteskan. Terlalu banyak darah sudah ditumpahkan. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk berjuang menciptakan sebuah masa dimana para ibu Israel dan Palestina bisa menyaksikan anak-anak mereka tumbuh tanpa ketakutan; masa dimana Tanah Suci dari ketiga agama besar merupakan tempat perdamaian yang diinginkan Allah; masa dimana Jerusalem merupakan tempat tinggal aman dan langgeng bagi orang Yahudi dan Kristen dan Muslim, dan merupakan sebuah tempat untuk semua keturunan Abraham hidup bersama secara damai sebagaimana dikisahkan dalam ISRA, ketika Musa, Yesus dan Muhammad (damai bersama mereka) bergabung dalam ibadah doa. (tepuk tangan)
Sumber ketegangan ketiga adalah kepentingan kita bersama sehubungan hak-hak dan tanggung jawab negara-negara atas senjata nuklir.
Isu ini menjadi sumber ketegangan baru-baru ini antara Amerika dan Republik Islam Iran. Selama bertahun-tahun, Iran mendefinisikan dirinya sebagian lewat oposisinya terhadap negara saya, dan memang ada sejarah yang kacau di antara kami. Di tengah-tengah Perang Dingin, Amerika memainkan peran dalam penggulingan pemerintah Iran yang terpilih secara demokratik. Sejak Revolusi Islam, Iran telah memainkan peran dalam tindak penyanderaan dan kekerasan terhadap pasukan dan warga sipil Amerika. Sejarah ini diketahui secara luas. Daripada terperangkap dalam masa lalu, saya telah menjelaskan kepada para pemimpin dan rakyat Iran bahwa negara saya siap untuk melangkah maju. Pertanyaannya kini, bukanlah apa yang ditentang Iran, tetapi masa depan apa yang ingin dibangunnya.
Sulit untuk mengatasi puluhan tahun ketidakpercayaan, tetapi kami akan maju dengan keberanian, kebenaran dan tekad. Banyak isu yang harus dibahas oleh kedua negara kita, dan kami siap melangkah maju tanpa prasyarat namun didasarkan pada sikap saling menghormati. Tetapi jelas bagi semua pihak yang berkepentingan bahwa dalam soal senjata nuklir kita telah mencapai titik yang menentukan. Ini bukan sekedar terkait kepentingan Amerika, ini berhubungan dengan pencegahan perlombaan senjata nuklir yang bisa menyebabkan wilayah ini terjerumus ke dalam jalur sangat berbahaya dan menghancurkan tatanan non-proliferasi global.
Saya memahami mereka yang memprotes bahwa beberapa negara memiliki senjata sementara yang lainnya tidak. Tak satupun negara bisa menentukan negara-negara mana yang boleh memiliki senjata nuklir. Itulah sebabnya saya secara kuat mempertegas komitmen Amerika untuk mengusahakan sebuah dunia di mana tak satu pun negara memiliki senjata nuklir. (tepuk tangan) Dan setiap negara – termasuk Iran – harus punya akses ke energi nuklir untuk tujuan damai apabila ia patuh pada tanggung jawabnya dibawah Persetujuan Non-Proliferasi Nuklir. Komitmen itu merupakan inti dari Persetujuan itu, dan harus diberikan kepada semua pihak yang mematuhinya.
Isu keempat yang akan saya tanggapi adalah demokrasi.
Saya percaya pada sebuah sistem pemerintahan yang memberi hak bersuara kepada rakyatnya, dan yang menghormati penegakan hukum serta hak untuk semua manusia. Saya tahu bahwa ada kontroversi tentang penggalakkan demokrasi dalam tahun-tahun terakhir ini, dan sebagian dari kontroversi ini terkait dengan perang di Irak. Saya perjelas: sistem pemerintahan apa pun tidak bisa dipaksakan kepada sebuah negara oleh negara lainnya.
Tetapi hal itu tidak mengurangi komitmen saya kepada negara-negara yang mencerminkan keinginan rakyatnya. Setiap negara menghidupkan prinsip-prinsipnya dengan caranya sendiri, yang berasal dari tradisi rakyatnya. Amerika tidak berpretensi tahu apa yang terbaik untuk semua orang, sebagaimana juga kami tidak berpretensi bahwa kami bisa menentukan hasil dari sebuah pemilihan damai. Tetapi saya memiliki keyakinan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi bahwa semua orang merindukan hal-hal tertentu: Kemampuan untuk mengungkapkan pendapat dan ikut menentukan bagaimana bentuk pemerintahan; mempercayai penegakan hukum dan penyelenggaraan keadilan yang sama untuk setiap orang; pemerintahan yang transparan dan tidak mencuri dari rakyatnya; kebebasan untuk hidup sesuai pilihan masing-masing. Itu bukan sekedar ide-ide Amerika, itu adalah hak asasi manusia dan oleh karena itu kami akan mendukungnya di mana saja. Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu. Tetapi yang jelas adalah: pemerintahan-pemerintahan yang melindungi hak-hak ini pada akhirnya akan lebih stabil, sukses dan aman.
Tak ada garis lurus untuk menciptakan janji itu. Tetapi yang jelas adalah: Memberangus ide-ide tidak pernah berhasil melenyapkannya. Amerika menghormati hak-hak dari semua suara damai dan patuh hukum agar didengar di seluruh dunia meskipun kita tidak sepakat dengan mereka. Dan kami menyambut gembira semua pemerintahan terpilih dan damai – asalkan mereka memerintah dengan menghormati rakyatnya. Dimanapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua fihak yang memegang kekuasaan.
Butir ini penting karena ada yang memperjuangkan demokrasi hanya pada saat mereka tidak berkuasa; setelah berkuasa, mereka secara keji memberangus hak-hak orang lain. (tepuk tangan) Di manapun kekuasaan itu berada, pemerintahan dari rakyat dan untuk rakyat merupakan standar tunggal untuk semua pihak yang memegang kekuasaan. anda harus mempertahankan kekuasaan lewat konsensus, bukan pemaksaan; anda harus menghormati hak-hak minoritas, dan berpartisipasi dalam semangat toleransi dan kompromi, anda harus mendahulukan kepentingan rakyat anda dan usaha sah dari proses politik di atas kepentingan partai. Tanpa ramuan ini pemilihan saja tidak akan menciptakan demokrasi yang murni.
Isu kelima yang harus kita tanggapi bersama adalah kebebasan beragama.
Islam memiliki sebuah tradisi toleransi yang patut dibanggakan. Kita menyaksikan hal ini dalam sejarah Andalusia dan Kordoba. Saya menyaksikan hal itu langsung ketika masih kanak-kanak di Indonesia, di mana warga Kristen yang saleh bebas beribadah di sebuah negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Itulah semangat yang kita butuhkan kini. Orang di setiap negara harus bebas memilih dan menjalankan keyakinan mereka berdasarkan keyakinan pikiran, hati dan jiwa. Toleransi ini penting agar agama bisa berkembang, tetapi juga ditantang dengan berbagai cara.
Di kalangan Muslim tertentu ada kecenderungan yang merisaukan, yakni mengukur kedalaman keyakinan diri sendiri lewat penolakan keyakinan orang lain. Kebhinekaan agama yang memperkaya harus ditegakkan – apakah itu kelompok Maronit di Lebanon atau Koptik di Mesir. (tepuk tangan) Dan garis pemisah juga harus dihilangkan di antara warga Muslim, sebagaimana perpecahan antara Sunni dan Syiah telah mengakibatkan kekerasan yang tragis, khususnya di Irak.
Kebebasan beragama penting bagi kemampuan rakyat hidup bersama. Kita harus senantiasa menelaah cara-cara yang kita pakai untuk melindunginya. Misalnya, di Amerika Serikat, peraturan sumbangan amal telah mempersulit warga Muslim untuk memenuhi kewajiban agama mereka. Itulah sebabnya saya bertekad untuk bekerja sama dengan warga Muslim Amerika guna memastikan mereka bisa memenuhi zakat.
Juga penting agar negara-negara Barat mencegah larangan kepada warganegara Muslim untuk mempraktikkan agama sesuai kehendak mereka – misalnya, dengan mendikte pakaian apa yang boleh dikenakan seorang perempuan Muslim. Sederhananya, kita tidak bisa menyembunyikan ketidaksenangan terhadap agama apapun lewat alasan liberalisme.
Keyakinan seharusnya mempersatukan kita. Itulah sebabnya kami mengikhtiarkan proyek-proyek di Amerika yang mempertemukan warga Kristen, Muslim dan Yahudi. Itulah sebabnya kami menyambut gembira usaha dialog Antar Agama Raja Abdullah dan kepemimpinan Turki dalam Aliansi Keberadaban. Di seluruh dunia kita bisa memanfaatkan dialog menjadi pelayanan Antar Keyakinan, sehingga jembatan di antara berbagai rakyat mengarah pada tindakan – apakah itu berupa perang melawan malaria di Afrika atau menyediakan bantuan bencana alam.
Isu keenam yang ingin saya tanggapi adalah hak-hak perempuan.
Saya tahu ada perdebatan tentang isu ini. Saya menolak pandangan beberapa pihak di Barat bahwa perempuan yang memilih untuk menutupi rambutnya seakan-akan tidak memiliki persamaan hak, tetapi saya juga berpendapat bahwa seorang perempuan yang tidak bisa menikmati pendidikan tidak diberi kesamaan hak. Dan bukan kebetulan bahwa negara-negara di mana kaum perempuannya terdidik secara baik juga makmur.
Saya perjelas: isu-isu mengenai persamaan hak perempuan bukan semata-mata merupakan isu untuk Islam. Di Turki, Pakistan, Bangladesh dan Indonesia, kita saksikan di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, mereka memilih seorang perempuan untuk memimpin. Sementara itu, perjuangan bagi persamaan hak perempuan masih terus merupakan aspek dalam kehidupan di Amerika, dan di negara-negara di seluruh dunia. Itulah sebabnya Amerika akan bermitra dengan setiap negara yang mayoritas penduduknya Muslim guna mendukung perluasan pemberantasan buta huruf untuk perempuan, dan membantu perempuan muda memperjuangkan pekerjaan lewat pinjaman untuk usaha kecil yang membantu rakyat merealisasikan cita-cita mereka. Saya yakin putri-putri kita bisa menyumbang kepada masyarakat setara seperti putra-putra kita, (tepuk tangan) dan kemakmuran kita bersama bisa dimajukan dengan memberi kesempatan kepada semua orang – laki-laki dan perempuan – mencapai potensi mereka sepenuhnya. Saya berpendapat perempuan tidak harus membuat pilihan sama seperti laki-laki agar mencapai kesamaan, dan saya menghormati perempuan yang memilih peran tradisional dalam menjalankan kehidupan mereka. Tetapi hal itu haruslah merupakan pilihan mereka sendiri.
Akhirnya, saya ingin membahas pembangunan ekonomi dan kesempatan. Saya tahu untuk banyak kalangan, wajah globalisasi bertentangan. Internet dan televisi bisa mengantarkan pengetahuan dan informasi, tetapi juga seksualitas yang bersifat ofensif dan kekerasan tak berperi kemanusiaan. Perdagangan bisa menciptakan kekayaan dan peluang baru, tetapi juga gangguan dan perubahan di masyarakat. Di semua negara – termasuk negara saya – perubahan ini bisa menyebabkan ketakutan. Ketakutan karena akibat modernitas kita kehilangan kendali atas pilihan ekonomi kita, politik kita dan yang terpenting, identitas kita – hal-hal yang paling kita hargai dari masyarakat kita, keluarga kita, tradisi kita dan keyakinan kita.
Tetapi saya juga tahu kemajuan manusia tidak bisa ditampik. Tidak perlu ada kontradiksi antara pembangunan dan tradisi. Negara seperti Jepang dan Korea Selatan membina ekonomi mereka sambil tetap mempertahankan budaya mereka. Hal yang sama juga berlaku pada kemajuan mengagumkan dalam Islam mulai dari Kuala Lumpur sampai ke Dubai. Di masa kuno dan di masa kita, masyarakat Muslim membuktikan bahwa mereka mampu berada di garis depan inovasi dan pendidikan.
Ini penting karena tak ada strategi pembangunan yang semata-mata didasarkan pada apa yang dihasilkan tanah, dan strategi pembangunan juga tidak bisa dipertahankan kalau generasi mudanya tidak memiliki pekerjaan. Banyak Negara Teluk menikmati kekayaan sebagai akibat penghasilan minyaknya, dan beberapa sudah mulai memusatkan perhatian pada pembangunan yang lebih luas. Tetapi kita semua harus menyadari bahwa pendidikan dan inovasi akan menjadi faktor penentu dari abad ke 21. (tepuk tangan) dan di banyak masyarakat Muslim masih kekurangan investasi dalam bidang-bidang ini..Saya tekankan hal itu di negara saya. Dan sementara Amerika di masa lalu memusatkan perhatian pada minyak dan gas alam di bagian dunia ini, kami kini menghendaki hubungan yang lebih luas.
Dalam pendidikan, kami akan memperluas program pertukaran dan memperbanyak bea siswa, seperti yang mengantar ayah saya ke Amerika, sementara juga mendorong lebih banyak warga Amerika untuk belajar di tengah masyarakat Muslim. Dan kami akan menempatkan siswa-siswa Muslim yang menjanjikan di tempat-tempat magang di Amerika; melakukan investasi dalam pembelajaran online untuk guru-guru dan anak-anak di seluruh dunia; dan menciptakan jaringan online baru, sehingga seorang remaja di Kansas mampu berkomunikasi langsung dengan remaja di Kairo.
Dalam rangka pembangunan ekonomi, kami akan menciptakan sebuah korps relawan bisnis baru untuk bermitra dengan counterpartnya di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Dan saya akan menyelenggarakan KTT Kewiraswastaan tahun ini untuk mengidentifikasi bagaimana kita bisa mempererat hubungan antara pemimpin bisnis, yayasan dan wiraswasta sosial di Amerika dan masyarakat Muslim di seluruh dunia.
Dalam bidang sains dan teknologi, kami akan meluncurkan sebuah dana baru untuk mendukung pembangunan teknologi di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim, dan membantu mentransfer ide-ide ke pasar-pasar sehingga tercipta lapangan pekerjaan. Kami akan membuka pusat keunggulan sains di Afrika, Timur Tengah dan Asia Tenggara serta mengangkat Utusan Sains baru untuk bekerja sama dalam program-program yang mengembangkan sumber energi baru, menciptakan lapangan pekerjaan hijau, digitalisasi catatan, air bersih dan menumbuhkan tanaman panen baru. Dan hari ini saya mengumumkan sebuah usaha global baru bersama Organisasi Konferensi Islam guna memberantas polio. Dan kita juga akan memperluas kemitraan dengan masyarakat Muslim guna menggalakkan kesehatan anak dan ibu.
Semua ini harus dilakukan lewat kemitraan. Rakyat Amerika siap bergabung dengan warganegara dan pemerintahan; organisasi kemasyarakatan, pemimpin agama dan bisnis di masyarakat Muslim diseluruh dunia guna membantu rakyat kita memperjuangkan kehidupan yang lebih baik. Isu-isu yang telah saya uraikan tidak mudah ditanggapi. Tetapi kita punya tanggung jawab untuk bergabung demi memperjuangkan dunia yang kita cita-citakan – sebuah dunia di mana ekstremis tidak lagi mengancam rakyat kita, dan pasukan Amerika bisa pulang; sebuah dunia di mana rakyat Israel dan Palestina masing-masing memiliki negara mereka sendiri yang aman, dan energi nuklir dipergunakan untuk tujuan damai; sebuah dunia di mana pemerintahan melayani warganegaranya serta hak-hak dari semua umat Allah dihormati. Ini merupakan kepentingan bersama. Itulah dunia yang kita cita-citakan, tetapi hal itu hanya kita bisa capai bersama.
Saya tahu ada banyak – Muslim dan non-Muslim – yang mempertanyakan apakah kita bisa membina permulaan baru ini. Beberapa ingin menghasut api perpecahan, dan menghalangi kemajuan. Beberapa mengatakan hal ini tidak ada gunanya – bahwa kita sudah ditakdirkan untuk berseteru dan berbagai peradaban ditakdirkan beradu. Banyak lagi yang sekedar skeptis bahwa perubahan nyata bisa terselenggara. Begitu banyak ketakutan, begitu banyak ketidak percayaan. Tetapi kalau kita memilih untuk terperangkap dalam masa lalu maka kita tidak pernah akan melangkah maju. Dan saya secara khusus ingin mengatakan kepada generasi muda dari setiap kepercayaan, di setiap negara – anda, lebih dari orang lain, memiliki kemampuan untuk menata kembali dunia, menyusun kembali dunia.
Kita semua menghuni dunia ini untuk waktu yang singkat. Pertanyaannya adalah apakah kita melewatkan waktu itu terpusat pada hal-hal yang memecah belah kita, atau apakah kita mendedikasikan diri pada usaha – usaha berkesinambungan – untuk mencapai kesamaan, memusatkan perhatian pada masa depan bagi anak-anak kita dan menghargai harga diri semua insan manusia.
Hal-hal ini tidaklah mudah. Lebih mudah memulai perang ketimbang menghentikannya. Lebih mudah menuduh pihak lain ketimbang melakukan introspeksi diri; untuk melihat apa yang berbeda pada diri seseorang ketimbang menemukan kesamaan kita. Tetapi ada pula sebuah aturan yang merupakan inti setiap agama – bahwa kita memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan oleh mereka. Kebenaran ini berlaku lintas negara dan lintas rakyat – sebuah keyakinan yang tidak baru, yang tidak hitam atau putih atau coklat; bukan kebenaran Kristen, atau Muslim atau Yahudi. Ini merupakan keyakinan yang berdetak dalam dari buaian keberadaban, dan masih tetap berdetak dalam jantung miliaran manusia. Ini merupakan rasa percaya pada orang lain, dan hal itulah yang membawa saya kesini hari ini.
Kita memiliki kekuatan untuk menciptakan dunia yang kita cita-citakan, tetapi hanya apabila kita punya keberanian untuk memasuki awal yang baru, sambil ingat pada apa yang tertulis. Kitab Suci Al Quran mengatakan, "Wahai manusia! Sesungguhnya kami telah ciptakan kamu sekalian dari jenis laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu sekalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling kenal mengenal…"
Talmud mengatakan kepada kita: "Seluruh Torah adalah untuk maksud menggalakkan perdamaian."
Kitab Suci Injil mengatakan pada kita, "Diberkatilah pencipta perdamaian, karena mereka akan disebut putra-putra Allah."
Rakyat seluruh dunia bisa hidup bersama dalam damai. Kita tahu itu merupakan visi Allah. Kini, itu menjadi kewajiban kita di Dunia. Terima kasih. Dan semoga damai Allah bersama anda. Terima kasih banyak. Terima kasih. (tepuk tangan bergemuruh)
*****
Pidato Presiden Amerika Serikat Barack Obama di Universitas Kairo (Cairo University) 4 Juni 2009. Dimulai Pukul 13.10 waktu setempat dan berakhir pada Pukul 14.05
Rahasia Dibalik Diezt.Closet
19:55
Poopist pasti bertanya-tanya, apakah itu Diezt.Closet dan poopist pasti bingung ‘qo ada ya, orang yang mau mengklaim dirinya sebagai closet’ nah…disini (hanya disini), saya akan menjelaskan tentang background saya mengklaim diri saya sebagai closet. Diezt.Closet adalah sebuah nama yang saya buat untuk diri saya sendiri, saya membuat nama ini hanya untuk di dunia maya, tapi jika poopist mengenal saya, poopist juga boleh memanggil saya dengan sebutan tersebut, karena saya berfikir bahwa, jika saya menampilkan nama asli saya sendiri di dunia maya, maka saya akan banyak menerima sms yang berisikan tentang “penggugatan” yang telah saya lakukan terhadap para pengguna Internet.
Diezt.Closet juga mempunyai arti yang sangat luas bila poopist ingin mengetahuinya, saya akan menjelaskan arti dari Diezt.Closet it self, Diezt yang saya ambil dari ejaan belakang dari nama depan saya “haldiez” (bukan nama sungguhan, tapi hamper mendekati sungguhan…hehe), kenapa saya mengambil ejaan dari nama depan saya sebagai nick saya, karena emhhh….. Cuma itu ejaan yang saya kira pantas untuk di jadikan nick hehe. Naaahh….. kalau Closet, Ummh, ini mungkin akan sangat panjang ceritanya,saya harap poopist semua menyiapkan makanan (cemilan) untuk ngedengerin cerita ini.
Poopist pasti sudah ilfeel kalau ngedenger kata-kata Closet, karena poopist tau sendiri bahwa Closet itu identik dengan bau, kotor, basah, pesink, kumuh, dan lain sebagainya tapi poopist tau bahwa seseorang apabila tidak sekali saja pergi ke Closet maka orang itu akan sangat mengalami penderita yang sangat mengerikan (lebay dech gue). Nach maka dari itu, saya ingin mengambil prinsip Closet yaitu “walaupun gue bau bau, kotor, basah, pesink, kumuh, dan lain sebagainya, tapi gue punya daya tarik tersendiri” so, saya mau diri saya itu mempunyai charisma walaupun penampilan saya tidak kaya cowok-cowok menarik lainnya (pie sebenr’e gue ntu menarik qok…hehe) dan apakah poopist tau bahwa banyak banget cewek-cewek yang ngantri buat curhat, karena tadi sudah saya jelaskan bahwa penampilan saya enggak se-menarik dari penampilan cowok-cowok laennya.
Apakah poopist tau bahwa saya mempunyai enggota yang juga ikut mengklaim dirinya sebagai Closet dan saya menyebutnya POOPIST dan poopist tau apa? Poopist juga bisa disebut sebagai POOPIST jika poopist memiliki penampilan yang tidak cukup menarik tapi poopist supel dalam bergaul. So sah-sah saja kan jika saya memanggil kalian sebagai Poopist.
George Walker Bush
19:34(born July 6, 1946, New Haven, Connecticut, U.S.) 43rd president of the United States (2001– ). Narrowly winning the electoral college vote over Vice President Al Gore in one of the closest and most controversial elections in American history, George W. Bush became the first person since Benjamin Harrison in 1888 to become president despite having lost the nationwide popular vote. He was narrowly reelected in 2004, defeating Democratic challenger John Kerry. Before assuming the presidency of the United States, Bush was a businessman and served as governor of Texas (1995–2000). ( Cabinet of President George W. Bush.)
Early life
Bush was the oldest of six children of George Bush, who served as 41st president of the United States (1989–93), and Barbara Bush. His paternal grandfather, Prescott Bush, was a U.S. senator from Connecticut (1952–62). The younger Bush grew up largely in Midland and Houston, Texas. From 1961 to 1964 he attended Phillips Academy in Andover, Massachusetts, the boarding school from which his father graduated. He received a bachelor's degree in history from Yale University, his father's and grandfather's alma mater, in 1968. Bush was president of his fraternity and, like his father, a member of Yale's secretive Skull and Bones society; unlike his father, he was only an average student and did not excel in athletics.
In May 1968, two weeks before his graduation from Yale and the expiration of his student draft deferment, Bush applied as a pilot trainee in the Texas Air National Guard, an assignment that made it less likely that he would have to fight in the Vietnam War than if he had become a member of the regular military. Commissioned a second lieutenant in July 1968, he became a certified fighter pilot in June 1970. In the fall of 1970, he applied for admission to the University of Texas law school but was rejected. From May to November 1972, Bush worked in Alabama on the U.S. Senate campaign of Republican William Blount, a friend of Bush's father. While in Alabama, Bush was suspended from flight duty for failing to take an annual physical exam, and he never flew again. His service records indicate that he missed at least eight months of duty in Alabama or in Texas between May 1972 and May 1973. Nonetheless, an early discharge was granted so that he could start Harvard business school in the fall of 1973. Bush's spotty military record resurfaced as a contentious campaign issue in both the 2000 and 2004 presidential elections.
After receiving his M.B.A. from Harvard in 1975, Bush returned to Midland, where he began working for a Bush family friend, an oil and gas attorney, and later started his own oil and gas firm. He married Laura Welch ( Laura Bush), a teacher and librarian, in Midland in 1977. After an unsuccessful run for Congress in 1978, Bush devoted himself to building his business. With help from his uncle, who was then raising funds for Bush's father's campaign for the Republican presidential nomination, Bush was able to attract numerous prominent investors. The company struggled through the early 1980s until the eventual collapse of oil prices in 1986, when it was purchased by the Harken Energy Corporation. Bush received Harken stock, a job as a consultant to the company, and a seat on the company's board of directors.
In the same year, shortly after his 40th birthday, Bush gave up drinking alcohol. “I realized,” he later explained, “that alcohol was beginning to crowd out my energies and could crowd, eventually, my affections for other people.” His decision was partly the result of a self-described spiritual awakening and a strengthening of his Christian faith that began the previous year after a conversation with the Reverend Billy Graham, a Bush family friend.
After the sale of his company, Bush spent 18 months in Washington working as an adviser and speechwriter in his father's presidential campaign. Following the election, he moved to Dallas, where he joined a group of investors buying the Texas Rangers professional baseball team. Although Bush's investment, which he made with a loan he obtained by using his Harken stock as collateral, was relatively small, his role as managing partner of the team brought him much exposure in the media and earned him a reputation as a successful businessman. When Bush's partnership sold the team in 1998, Bush received nearly $15 million.
Governor of Texas
In 1994 Bush challenged Democratic incumbent Ann Richards for the governorship of Texas. It was a hard-fought race in which Bush received the support of some prominent Democratic and Hispanic politicians. Bush won the election 53 percent to 46 percent, the first person ever to be elected a state governor whose father was a U.S. president. A major issue in the campaign concerned an investigation by the Securities and Exchange Commission (SEC) in 1991 into Bush's sale of all his Harken stock in June 1990, just days before the company completed a second quarter with heavy losses. Bush's failure to report the sale until well after the reporting deadline prompted an SEC investigation into illegal “insider” trading (taking advantage of information not available to the public), which did not find any wrongdoing, though questions remained regarding its thoroughness.
As governor, Bush increased state spending on elementary and secondary education and made the salaries and promotions of teachers and administrators contingent on their students' performance on standardized tests. Fulfilling a campaign promise to toughen the state's juvenile justice system, his administration increased the number of crimes for which juveniles could be sentenced to adult prisons following custody in juvenile detention and lowered to 14 the age at which children could be tried as adults. Throughout his tenure he received international attention for the brisk pace of public executions in Texas relative to other states. Fulfilling another campaign pledge, Bush signed into law several measures aimed at tort reform, including one that imposed new limits on punitive damages and another that narrowed the legal definition of “gross negligence.” With his reelection in 1998, Bush became the first Texas governor to win consecutive four-year terms.
Bush formally announced his candidacy for the Republican presidential nomination on June 12, 1999. He described his political philosophy as “compassionate conservatism,” a doctrine that combined traditional Republican economic and social policies with concern for the underprivileged. He quickly gathered the endorsement of a large number of Republican officeholders and raised more money than any other Republican or Democratic candidate, collecting approximately $100 million for his primary election campaign. His running mate was Dick Cheney, former chief of staff for President Gerald Ford and secretary of defense during the presidency of Bush's father. Despite his refusal to give direct answers to questions about his drinking and possible use of illegal drugs (he said that, at the time his father was president, he would have passed a background check going back 15 years, to 1974), Bush survived a vigorous challenge in the Republican primary from Senator John McCain and won the Republican nomination, taking a strong lead in public-opinion polls over Vice President Al Gore, the Democratic Party nominee; Ralph Nader, the Green Party candidate; and political commentator Patrick Buchanan, the nominee of the Reform Party.
As the general election campaign continued, the gap in the polls between Bush and Gore narrowed to the closest in any election in the previous 40 years. On election day the presidency hinged on the 25 electoral votes of Florida, where Bush led Gore by fewer than 1,000 popular votes after a mandatory statewide machine recount. After the Gore campaign asked for manual recounts in four heavily Democratic counties, the Bush campaign filed suit in federal court to stop any further recounts. For five weeks the election remained unresolved as Florida state courts and federal courts heard numerous legal challenges by both campaigns. Eventually the Florida Supreme Court decided (4–3) to order a statewide manual recount of the approximately 45,000 “undervotes” (i.e., ballots that machines recorded as not clearly expressing a presidential vote). The Bush campaign quickly filed an appeal with the U.S. Supreme Court, asking it to delay the recounts until it could hear the case; a stay was issued by the court on December 9. Three days later, concluding (7–2) that a fair statewide recount could not be performed in time to meet the December 18 deadline for certifying the state's electors, the court issued a controversial 5–4 decision to reverse the Florida Supreme Court's recount order, effectively awarding the presidency to Bush. By winning Florida, Bush narrowly won the electoral vote over Gore by 271 to 266—only 1 more than the required 270.
After Gore conceded defeat, Bush struck a conciliatory tone, promising to reach out to Democrats and declaring that “I was not elected to serve one party but to serve one nation. Whether you voted for me or not, I will do my best to serve your interests.” With his inauguration, Bush became only the second son of a president to assume the nation's highest office; the other was John Quincy Adams (1825–29), the son of John Adams (1797–1801).
Presidency
Bush was the first Republican president to enjoy a majority in both houses of Congress since Dwight D. Eisenhower in the 1950s. Taking advantage of his party's majority, in June 2001 Bush signed into law a $1.35 trillion tax-cut bill, which passed Congress despite fierce opposition from Democrats. Only two days before the bill was signed, however, control of the Senate formally passed to the Democrats following Republican Senator James Jeffords's decision to leave his party and become an independent. Subsequently, many of Bush's domestic initiatives, including his plan to introduce educational vouchers, encountered significant resistance.
In foreign affairs, the Bush administration announced that the United States would not abide by the Kyoto Protocol on reducing the emission of gases responsible for global warming (the United States had signed the protocol in the last days of the Bill Clinton administration) because the agreement did not impose emission limits on developing countries and because it could harm the U.S. economy. The administration also withdrew from the 1972 Treaty on the Limitation of Anti-Ballistic Missile Systems and attempted to secure commitments from various governments not to extradite U.S. citizens to the new International Criminal Court, whose jurisdiction it rejected. To many of Bush's critics at home and abroad, these developments reflected a dangerous unilateralism in U.S. foreign policy.
In February 2001 U.S. and British warplanes bombed targets in Baghdad in defense of the no-fly zones established in northern and southern Iraq after the Persian Gulf War, in 1991. The incident foreshadowed events that would dominate Bush's presidency two years later.
The Bush administration's first major challenge came on September 11, 2001, when four American commercial airplanes were hijacked by Islamic terrorists. Two of the planes were deliberately crashed into the twin towers of the World Trade Center in New York City, destroying both towers and collapsing or damaging many surrounding buildings, and a third was used to destroy part of the Pentagon building outside Washington, D.C.; the fourth plane crashed outside Pittsburgh, Pennsylvania, after passengers apparently attempted to retake the plane. The crashes—the worst terrorist incident on U.S. soil—killed some 3,000 people and prompted calls around the world for a global war on terrorism.
Domestic security and the fight against terrorism subsequently became the chief focus of the Bush administration and the top priority of government at every level. Shortly after the September 11 attacks, the administration requested, and Congress passed, the USA PATRIOT Act, which significantly expanded the search and surveillance powers of the Federal Bureau of Investigation and other law-enforcement agencies. Hundreds of resident aliens and some U.S. citizens were arrested and detained, some on questionable grounds, as the country scrambled to tighten security and to prepare for possible additional attacks. To coordinate these actions, the administration formed a cabinet-level Department of Homeland Security, which began operating on January 24, 2003.
Bush accused radical Islamist Osama bin Laden and his terrorist network, al-Qaeda (Arabic: “the Base”), of responsibility for the September 11 attacks (in a videotape in 2004 bin Laden himself acknowledged that he was responsible). He also charged the Taliban government of Afghanistan with harbouring bin Laden and his followers. Bush built an international coalition against terrorism and ordered a massive bombing campaign, which began on October 7, 2001, against terrorist and Taliban targets in Afghanistan. After U.S. forces routed al-Qaeda and forced the Taliban from power, the Bush administration began working with Afghanistan's various ethnic and political factions to establish a stable regime there. For his handling of the country's response to the terrorist attacks and the war in Afghanistan, Bush received high job-approval ratings.
In September 2002 the administration announced a new National Security Strategy of the United States of America. It was notable for its declaration that the United States would act “preemptively,” using military force if necessary, to forestall or prevent threats to its security by terrorists or “rogue states” possessing biological, chemical, or nuclear weapons—so-called “weapons of mass destruction.” Bush simultaneously drew worldwide attention to Iraqi President addm ussein and to suspicions that Iraq had attempted to develop weapons of mass destruction in violation of United Nations Security Council resolutions. In November 2002 the Bush administration successfully lobbied for a new Security Council resolution providing for the return of weapons inspectors to Iraq. Soon thereafter Bush declared that Iraq had failed to comply fully with the new resolution and that the country continued to possess weapons of mass destruction. For several weeks the United States and Britain tried unsuccessfully to secure support from France, Russia, and other Security Council members for a second resolution explicitly authorizing the use of force against Iraq, though administration officials continued to insist that earlier resolutions provided sufficient legal justification for military action. As debate in the Security Council dragged on, antiwar sentiment outside the United States increased dramatically, leading to massive peace demonstrations in several major cities throughout the world, especially in Europe. Finally Bush declared an end to diplomacy. On March 17 he issued an ultimatum to addm, giving him and his immediate family 48 hours to leave Iraq or face removal by force; he also indicated that, even if addm relinquished power, U.S.-led military forces would enter the country to search for weapons of mass destruction and to stabilize the new government.
Albert Einstein
19:31
Albert Einstein was born at Ulm, in Württemberg, Germany, on March 14, 1879. Six weeks later the family moved to Munich, where he later on began his schooling at the Luitpold Gymnasium. Later, they moved to Italy and Albert continued his education at Aarau, Switzerland and in 1896 he entered the Swiss Federal Polytechnic School in Zurich to be trained as a teacher in physics and mathematics. In 1901, the year he gained his diploma, he acquired Swiss citizenship and, as he was unable to find a teaching post, he accepted a position as technical assistant in the Swiss Patent Office. In 1905 he obtained his doctor's degree.
During his stay at the Patent Office, and in his spare time, he produced much of his remarkable work and in 1908 he was appointed Privatdozent in Berne. In 1909 he became Professor Extraordinary at Zurich, in 1911 Professor of Theoretical Physics at Prague, returning to Zurich in the following year to fill a similar post. In 1914 he was appointed Director of the Kaiser Wilhelm Physical Institute and Professor in the University of Berlin. He became a German citizen in 1914 and remained in Berlin until 1933 when he renounced his citizenship for political reasons and emigrated to America to take the position of Professor of Theoretical Physics at Princeton*. He became a United States citizen in 1940 and retired from his post in 1945.
After World War II, Einstein was a leading figure in the World Government Movement, he was offered the Presidency of the State of Israel, which he declined, and he collaborated with Dr. Chaim Weizmann in establishing the Hebrew University of Jerusalem.
Einstein always appeared to have a clear view of the problems of physics and the determination to solve them. He had a strategy of his own and was able to visualize the main stages on the way to his goal. He regarded his major achievements as mere stepping-stones for the next advance.
At the start of his scientific work, Einstein realized the inadequacies of Newtonian mechanics and his special theory of relativity stemmed from an attempt to reconcile the laws of mechanics with the laws of the electromagnetic field. He dealt with classical problems of statistical mechanics and problems in which they were merged with quantum theory: this led to an explanation of the Brownian movement of molecules. He investigated the thermal properties of light with a low radiation density and his observations laid the foundation of the photon theory of light.
In his early days in Berlin, Einstein postulated that the correct interpretation of the special theory of relativity must also furnish a theory of gravitation and in 1916 he published his paper on the general theory of relativity. During this time he also contributed to the problems of the theory of radiation and statistical mechanics.
In the 1920's, Einstein embarked on the construction of unified field theories, although he continued to work on the probabilistic interpretation of quantum theory, and he persevered with this work in America. He contributed to statistical mechanics by his development of the quantum theory of a monatomic gas and he has also accomplished valuable work in connection with atomic transition probabilities and relativistic cosmology.
After his retirement he continued to work towards the unification of the basic concepts of physics, taking the opposite approach, geometrisation, to the majority of physicists.
Einstein's researches are, of course, well chronicled and his more important works include Special Theory of Relativity (1905), Relativity (English translations, 1920 and 1950), General Theory of Relativity (1916), Investigations on Theory of Brownian Movement (1926), and The Evolution of Physics (1938). Among his non-scientific works, About Zionism (1930), Why War? (1933), My Philosophy (1934), and Out of My Later Years (1950) are perhaps the most important.
Albert Einstein received honorary doctorate degrees in science, medicine and philosophy from many European and American universities. During the 1920's he lectured in Europe, America and the Far East and he was awarded Fellowships or Memberships of all the leading scientific academies throughout the world. He gained numerous awards in recognition of his work, including the Copley Medal of the Royal Society of London in 1925, and the Franklin Medal of the Franklin Institute in 1935.
Einstein's gifts inevitably resulted in his dwelling much in intellectual solitude and, for relaxation, music played an important part in his life. He married Mileva Maric in 1903 and they had a daughter and two sons; their marriage was dissolved in 1919 and in the same year he married his cousin, Elsa Löwenthal, who died in 1936. He died on April 18, 1955 at Princeton, New Jersey.
From Nobel Lectures, Physics 1901-1921, Elsevier Publishing Company, Amsterdam, 1967
This autobiography/biography was written at the time of the award and first published in the book series Les Prix Nobel. It was later edited and republished in Nobel Lectures. To cite this document, always state the source as shown above.
View blog reactionsBarack Obama
19:24
In the News: President Barack Obama in an address to the Turkish parliament Monday (April 6, 2009) declared the United States "is not and will never be at war with Islam."
Making his first visit to a Muslim nation as president, Obama called for a greater partnership with the Islamic world. In an attempt to mend fences with a community that felt unfairly blamed by America for the terrorist attacks of September 11, Obama reminded Turkey that they are an important ally. He also devoted a good portion of his talk to the idea of establishing a bond between Americans and Muslims, and portraying terrorist groups such as al Qaida as extremists who did not represent the Muslim majority.
"America's relationship with the Muslim world cannot and will not be based on opposition to al Qaida," he said. "We seek broad engagement based upon mutual interests and mutual respect."
Al Jazeera and Al Arabiyia, two of the biggest Arabic satellite channels, carried Obama's speech live.
Obama's trip to Turkey is the final scheduled visit on his recent international tour. Last week, he attended the G-20 economic summit in London, celebrated NATO's 60th anniversary in France, and appeared at a summit of European Union leaders in Prague.
Biography: Barack Hussein Obama was born Aug. 4, 1961, in Honolulu, Hawaii. His father, Barack Obama, Sr., was born of Luo ethnicity in Nyanza Province, Kenya. He grew up herding goats with his own father, who was a domestic servant to the British. Although reared among Muslims, Obama, Sr., became an atheist at some point.Obama’s mother, Ann Dunham, grew up in Wichita, Kansas. Her father worked on oil rigs during the Depression. After the Japanese attack on Pearl Harbor, he signed up for service in World War II and marched across Europe in Patton’s army. Dunham’s mother went to work on a bomber assembly line. After the war, they studied on the G. I. Bill, bought a house through the Federal Housing Program, and moved to Hawaii.
Meantime, Barack’s father had won a scholarship that allowed him to leave Kenya pursue his dreams in Hawaii. At the time of his birth, Obama’s parents were students at the East–West Center of the University of Hawaii at Manoa.
Obama’s parents separated when he was two years old and later divorced. Obama’s father went to Harvard to pursue Ph. D. studies and then returned to Kenya.
His mother married Lolo Soetoro, another East–West Center student from Indonesia. In 1967, the family moved to Jakarta, where Obama’s half-sister Maya Soetoro–Ng was born. Obama attended schools in Jakarta, where classes were taught in the Indonesian language.
Four years later when Barack (commonly known throughout his early years as "Barry") was ten, he returned to Hawaii to live with his maternal grandparents, Madelyn and Stanley Dunham, and later his mother (who died of ovarian cancer in 1995).
He was enrolled in the fifth grade at the esteemed Punahou Academy, graduating with honors in 1979. He was only one of three black students at the school. This is where Obama first became conscious of racism and what it meant to be an African–American.
In his memoir, Obama described how he struggled to reconcile social perceptions of his multiracial heritage. He saw his biological father (who died in a 1982 car accident) only once (in 1971) after his parents divorced. And he admitted using alcohol, marijuana and cocaine during his teenage years.
After high school, Obama studied at Occidental College in Los Angeles for two years. He then transferred to Columbia University in New York, graduating in 1983 with a degree in political science.
After working at Business International Corporation (a company that provided international business information to corporate clients) and NYPIRG, Obama moved to Chicago in 1985. There, he worked as a community organizer with low-income residents in Chicago’s Roseland community and the Altgeld Gardens public housing development on the city’s South Side.
It was during this time that Obama, who said he "was not raised in a religious household," joined the Trinity United Church of Christ. He also visited relatives in Kenya, which included an emotional visit to the graves of his father and paternal grandfather.
Obama entered Harvard Law School in 1988. In February 1990, he was elected the first African–American editor of the Harvard Law Review. Obama graduated magna cum laude in 1991.
After law school, Obama returned to Chicago to practice as a civil rights lawyer, joining the firm of Miner, Barnhill & Galland. He also taught at the University of Chicago Law School. And he helped organize voter registration drives during Bill Clinton’s 1992 presidential campaign.
Obama published an autobiography in 1995 Dreams From My Father: A Story of Race and Inheritance. And he won a Grammy for the audio version of the book.
Obama’s advocacy work led him to run for the Illinois State Senate as a Democrat. He was elected in 1996 from the south side neighborhood of Hyde Park.
During these years, Obama worked with both Democrats and Republicans in drafting legislation on ethics, expanded health care services and early childhood education programs for the poor. He also created a state earned-income tax credit for the working poor. And after a number of inmates on death row were found innocent, Obama worked with law enforcement officials to require the videotaping of interrogations and confessions in all capital cases.
In 2000, Obama made an unsuccessful Democratic primary run for the U. S. House of Representatives seat held by four-term incumbent candidate Bobby Rush.
Following the 9/11 attacks, Obama was an early opponent of President George W. Bush’s push to war with Iraq. Obama was still a state senator when he spoke against a resolution authorizing the use of force against Iraq during a rally at Chicago’s Federal Plaza in October 2002.
"I am not opposed to all wars. I'm opposed to dumb wars," he said. "What I am opposed to is the cynical attempt by Richard Perle and Paul Wolfowitz and other arm-chair, weekend warriors in this Administration to shove their own ideological agendas down our throats, irrespective of the costs in lives lost and in hardships borne."
"He's a bad guy," Obama said, referring to Iraqi dictator Saddam Hussein. "The world, and the Iraqi people, would be better off without him. But I also know that Saddam poses no imminent and direct threat to the United States, or to his neighbors, that the Iraqi economy is in shambles, that the Iraqi military a fraction of its former strength, and that in concert with the international community he can be contained until, in the way of all petty dictators, he falls away into the dustbin of history."
"I know that even a successful war against Iraq will require a U. S. occupation of undetermined length, at undetermined cost, with undetermined consequences," Obama continued. "I know that an invasion of Iraq without a clear rationale and without strong international support will only fan the flames of the Middle East, and encourage the worst, rather than best, impulses of the Arab world, and strengthen the recruitment arm of al-Qaeda."
The war with Iraq began in 2003 and Obama decided to run for the U.S. Senate open seat vacated by Republican Peter Fitzgerald. In the 2004 Democratic primary, he won 52 percent of the vote, defeating multimillionaire businessman Blair Hull and Illinois Comptroller Daniel Hynes.
That summer, he was invited to deliver the keynote speech in support of John Kerry at the 2004 Democratic National Convention in Boston. Obama emphasized the importance of unity, and made veiled jabs at the Bush administration and the diversionary use of wedge issues.
"We worship an awesome God in the blue states, and we don't like federal agents poking around our libraries in the red states," he said. "We coach Little League in the blue states, and yes, we've got some gay friends in the red states. There are patriots who opposed the war in Iraq, and there are patriots who supported the war in Iraq. We are one people, all of us pledging allegiance to the Stars and Stripes, all of us defending the United States of America."
After the convention, Obama returned to his U.S. Senate bid in Illinois. His opponent in the general election was suppose to be Republican primary winner Jack Ryan, a wealthy former investment banker. However, Ryan withdrew from the race in June 2004, following public disclosure of unsubstantiated sexual allegations by Ryan's ex wife, actress Jeri Ryan.
In August 2004, diplomat and former presidential candidate Alan Keyes, who was also an African-American, accepted the Republican nomination to replace Ryan. In three televised debates, Obama and Keyes expressed opposing views on stem cell research, abortion, gun control, school vouchers and tax cuts.
In the November 2004 general election, Obama received 70% of the vote to Keyes's 27%, the largest electoral victory in Illinois history. Obama became only the third African-American elected to the U.S. Senate since Reconstruction.
Sworn into office January 4, 2005, Obama partnered with Republican Sen. Richard Lugar of Indiana on a bill that expanded efforts to destroy weapons of mass destruction in Eastern Europe and Russia. Then with Republican Sen. Tom Corburn of Oklahoma, he created a website that tracks all federal spending.
Obama was also the first to raise the threat of avian flu on the Senate floor, spoke out for victims of Hurricane Katrina, pushed for alternative energy development and championed improved veterans´ benefits. He also worked with Democrat Russ Feingold of Wisconsin to eliminate gifts of travel on corporate jets by lobbyists to members of Congress.
His second book, The Audacity of Hope: Thoughts on Reclaiming the American Dream, was published in October 2006.
In February 2007, Obama made headlines when he announced his candidacy for the 2008 Democratic presidential nomination. He was locked in a tight battle with former first lady and current U.S. Senator from New York, Hillary Rodham Clinton until he became the presumptive nominee on June 3, 2008. On November 4th, 2008, Obama defeated Republican presidential nominee John McCain for the position of U.S. President. He is now the 44th president of the United States.
Obama met his wife, Michelle, in 1988 when he was a summer associate at the Chicago law firm of Sidley & Austin. They were married in October 1992 and live in Kenwood on Chicago's South Side with their daughters, Malia (born 1998) and Sasha (born 2001).
© 2008 A&E Television Networks. All rights reserved.
View blog reactionsBill Gates
19:20
Bill Gates is one of the most influential people in the world. He is cofounder of one of the most recognized brands in the computer industry with nearly every desk top computer using at least one software program from Microsoft. According to the Forbes magazine, Bill Gates is the richest man in the world and has held the number one position for many years.
Gates was born and grew up in Seattle, Washington USA. His father, William H. Gates II was a Seattle attorney and his mother, Mary Maxwell Gates was a school teacher and chairperson of the United Way charity. Gates and his two sisters had a comfortable upbringing, with Gates being able to attend the exclusive secondary "Lakeside School".
Bill Gates started studying at Harvard University in 1973 where he met up with Paul Allen. Gates and Allen worked on a version of the programming language BASIC, that was the basis for the MITS Altair (the first microcomputer available). He did not go on to graduate from Harvard University as he left in his junior year to start what was to become the largest computer software company in the world; Microsoft Corporation.
Bill Gates and the Microsoft Corporation
"To enable people and businesses throughout the world to realize their full potential." Microsoft Mission Statement
After dropping out of Harvard Bill Gates and his partner Paul Allen set about revolutionizing the computer industry. Gates believed there should be a computer on every office desk and in every home.
In 1975 the company Micro-soft was formed, which was an abbreviation of microcomputer software. It soon became simply "Microsoft"® and went on to completely change the way people use computers.
Microsoft helped to make the computer easier to use with its developed and purchased software, and made it a commercial success. The success of Microsoft began with the MS-DOS computer operating system that Gates licensed to IBM. Gates also set about protecting the royalties that he could acquire from computer software by aggressively fighting against all forms of software piracy, effectively creating the retail software market that now exists today. This move was quite controversial at the time as it was the freedom of sharing that produced much innovation and advances in the newly forming software industry. But it was this stand against software piracy, that was to be central in the great commercial success that Microsoft went on to achieve.
Bill Gates retired as Microsoft CEO in 2008.
Bill Gates Criticism
With his great success in the computer software industry also came many criticisms. With his ambitious and aggressive business philosophy, Gates or his Microsoft lawyers have been in and out of courtrooms fighting legal battles almost since Microsoft began.
The Microsoft monopoly sets about completely dominating every market it enters through either acquisition, aggressive business tactics or a combination of them. Many of the largest technology companies have fought legally against the actions of Microsoft, including Apple Computer, Netscape, Opera, WordPerfect, and sun Microsystems.
Bill Gates Net Worth
With an estimated wealth of $53 billion in 2006, Bill Gates is the richest man in the world and he should be starting to get used to the number spot as he has been there from the mid-ninties up until now. The famous investor Warren Buffett is gaining on Gates though with an estimated $46 billion in 2006.
Microsoft hasn't just made Bill Gates very wealthy though. According to the Forbes business magazine in 2004 Paul Allen, Microsoft cofounder was the 5th richest man in the world with an estimated $21 billion. While Bill Gates' long time friend and Microsoft CEO, Steve Ballmer was the 19th richest man in the world at $12.4 billion.
See more information the Bill Gates Net Worth page.
Bill Gates Philanthropy
Being the richest man in the world has also enabled Gates to create one of the world's largest charitable foundations. The Bill and Melinda Gates Foundation has an endowment of more than $28 billion, with donations totaling more than $1 billion every year. The foundation was formed in 2000 after merging the "Gates Learning Foundation" and "William H. Gates Foundation". Their aim is to "bring innovations in health and learning to the global community".
Bill Gates continues to play a very active role in the workings of the Microsoft Company, but has handed the position of CEO over to Steve Ballmer. Gates now holds the positions of "Chairman" and "Chief Software Architect". He has started that he plans to take on fewer responsibilities at Microsoft and will eventually devote all his time to the Bill & Melinda Gates Foundation.
In 2006, the second richest man in the world, Warren Buffett pledged to give much of his vast fortune to the Bill and Melinda Gates Foundation.
Bill Gates Receives a KBE
In March 2005 William H. Gates received an "honorary" knighthood from the queen of England. Gates was bestowed with the KBE Order (Knight Commander of the Most Excellent Order of the British Empire) for his services in reducing poverty and improving health in the developing countries of the world.
After the privately held ceremony in Buckingham Palace with Her Majesty Queen Elizabeth II, Gates commented on the recognition..
"I am humbled and delighted. I am particularly pleased that this honor helps recognize the real heroes our foundation (Bill and Melinda Gates Foundation) supports to improve health in poor countries. Their incredible work is helping ensure that one day all people, no matter where they are born, will have the same opportunity for a healthy life, and I'm grateful to share this honor with them."
The KBE Order of the British Empire is the second highest Order given out, but it is only an honorary knighthood as only citizens that are British or a part of the Commonwealth receive the full Order. This means that Gates does not become Sir Bill Gates.
Bill Gates lives near Lake Washington with his wife Melinda French Gates and their three children. Interests of Gates include reading, golf and playing bridge.
View blog reactions
Surat Dari Nenek
18:59
Ada seorang nenek datang ke kantor pos. Ia bermaksud mengirim sepucuk surat kepada cucunya. Namun, karena bingung si nenek mendekati petugas pos yang ada di situ.
Petugas : Ada yang bisa saya bantu nek...???
Nenek : Ada...saya mau mengirim surat untuk cucu saya, apa disini ada perangkonya..?
Petugas : tentu dong nek, masa di kantor pos enggak ada perangko. Kemudian apa lagi
Nenek : Bisa tolong tuliskan Alamatnya juga di amplop..?
Petugas : Boleh..ada lagi..?
Nenek : Ada..bisa sekalian tuliskan suratnya..?
Kemudian si petugas menuliskan isi surat yang didiktekan oleh si nenek dengan panjang lebar, setelah selesai lalu surat itu diberikannya kepada si nenek supaya dibaca terlebih dahulu.
Petugas : Silahkan dibaca dulu, nek..!!!
Nenek : maaf dek tolong tambahin lagi..!!! NB : maafin nenek ya cu kalau tulisannya jelek...
Petugas : @#$^$%&#$#* View blog reactions
Si Bakhil dan Pot yang Beranak
16:20"Kenapa Anda mengucapkan selamat kepadaku?" tanya orang kaya itu.
Mullah Nasruddin memindahkan pot kecil serupa ceret dari sakunya ke dalam ceret yang besar dan menyodorkannya kepada orang kaya itu, "Ceret besar Anda telah melahirkan bayi pot yang indah ini?"
"Rupanya dia gila, tetapi apakah aku harus menolak pot kecil ini," pikir orang akaya itu. "Oh! Lihat bagaimana bayi kecil ini mirip ibunya," seru orang kaya sambil mengambil pot kecil itu dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam rumahnya.
Dua hari kemudian Mullah Nasruddin datang lagi meminjam ceret besar itu. Waktu itu Mullah tidak harus menunggu lama, dia menerima ceret besar itu secepat pembayarannya kepada orang kaya itu.
Hari berikutnya Mullah tergesa-gesa masuk rumah orang kaya itu dengan muka cemberut dan berkata, "Tuan, sungguh berita jelek!"
"Apa ada famili Anda yang meninggal?" tanya orang kaya.
"Pot Anda mati, Tuan!" tambah Mullah.
"Apa? Tidak mungkin! Bagaimana pot dapat mati?" teriak orang kaya.
"Memang sungguh aneh, Tuan! Apabila pot itu bisa hamil dan melahirkan pot kecil, namun kenapa Anda tidak menerimanya bahwa dia bisa juga mati?," tegas Mullah.
GARA-GARA LILIN
16:20Pastur berkata, " Hai Ny . O'Reilly ... bagaimana kabar suami anda?
Bukankah saya yang menikahkan anda berdua kira-kira lima tahun yang lalu?
" Ya, memang andalah yang menikahkan kami, Pastur", jawab Ny. O'Reilly.
Lalu Pastur bertanya lagi, "Berapa anak anda sekarang?"
"Oh ... belum ada Pastur, kami belum mempunyai anak satupun."
"Baiklah, minggu depan aku akan pergi ke Roma, di sana aku akan berdoa dan menyalakan sebuah lilin untukmu", kata Pastur.
Bertahun-tahun kemudian, mereka bertemu lagi di jalan dan Pastur bertanya,
"Ny. O'Reilly apakah anda sudah mempunyai anak?"
"Oh sudah Pastur, saya mempunyai tiga pasang anak kembar, dan 4 orang anak yang tidak kembar, jadi semuanya ada sepuluh orang." jawab Ny. O'Reilly.
Lalu Pastur berkata,"Wow, bukankah itu sangat luar biasa!!
Lalu bagaimana keadaan suamimu?"
"Dia sedang pergi ke Roma", jawab Ny. O'Reilly
"Ke Roma???
Ada urusan apa dia berangkat ke Roma?", tanya Pastur.
"Mencoba mematikan lilin yang Pastur nyalakan." Jawab Ny. O'Reilly.
View blog reactions



